Bupati Luwu, Ada Tiga Kunci Kesuksesan Berdemokrasi “Jaman Now”

LUWU, TN- Bupati Luwu, H.Andi Mudzakkar saat memberikan kata sambutan sekaligus membuka acara kegiatan sosialisasi pengawasan partisipatif untuk proses pemilihan umum (pemilu) 2019, yang diadakan oleh Bawaslu Propinsi Sulsel di aula hotel Belia belopa, rabu (10/10).

H.Andi Mudzakkar yang akrab dipanggil Cakka atas nama pemerintah mengucapkan terimakasih untuk kita semua yang masih punya perhatian terhadap demokrasi, terhadap bangsa, terhadap negara, terhadap rakyat indonesia dalam menciptakan demokrasi direpublik indonesia ini.

Manusia dihargai oleh tuhannya, dihargai oleh orang adalah manusia yang sudah bermanfaat dan berpahala bagi Manusia Lainnya, itu kunci utama daripada demokrasi sebetulnya, demokrasi apapun yang kita lalui kalau kita tidak sadar akan kepedulian terhadap sesama maka kita tidak akan mendapatkan suatu demokrasi yang baik dinegara kita ini

Demokrasi kali ini berbeda dengan demokrasi sebelumnya, ungkap Cakka. Perbedaan yang dimaksud adalah sistemnya, demokrasi sekarang menggunakan sistem bagi ganjil (:1:3:5:7 dan seterusnya) sehingga bagi parpol yang memiliki suara terbanyak namun tidak lagi berpeluang memiliki kursi lebih dari satu.

Kemudian setelah dibagi dengan sistem pembagian ganjil untuk parpol, para caleg juga akan bersaing secara individu meraih suara terbanyak dalam internal di masing-masing parpolnya, ini yang harus diperhatikan oleh penyelenggara pemilu

Karena kedua faktor ini termasuk sumber ketidak netralan dilapangan, mempersempit tindakan dari kandidat untuk berbuat curang, otomatis gaya baru kecurangan (penampilan) demokrasi juga berubah untuk mempengaruhi, baik pada peserta parpol maupun nonparpol (masyarakat).

Penyelenggara Pemilu bukan saja KPU dan Bawaslu tapi ada campur tangan dari Polri, TNI dan Pemerintah Daerah, apabila ketiga institusi ini bersama KPU dan Bawaslu saling singkron melaksanakan proses pemilu yang baik, jujur, adil dan netral maka akan menghasilkan demokrasi yang baik pula.

“Sebaliknya, walaupun KPU bersama Bawaslu menciptakan aturan yang baik tapi kalau ketiga instutusi tadi tidak memihak ke Bawaslu maupun KPU yang netral, demokrasi tetap berjalan tetapi kita tidak akan temukan demokrasi yang sebenarnya, karena ketiga institusi ini sangat berpengaruh ditengah-tengah masyarakat”.

Kemudian kantong-kantong Potensi kecurangan harus diketahui dan dikuasai oleh Bawaslu, ungkapnya. Sering berbuat kecurangan cuman satu yaitu parpol, karena masing-masing mau membesarkan partainya, kita juga harus tau kalau dulu kecurangan terjadi ditingkat desa, saat ini ada dua tempat kecurangan yang sering terjadi yaitu ditingkat TPS dan ditingkat PPK kecamatan.

Dan yang terakhir adalah sudah empat kali terjadi pergeseran “Reng kepemimpinan kepala negara”, Terang Cakka. Dari jamannya Soekarno sampai masa kepemimpinan Megawati, masyarakat memilih berdasarkan Latar belakang calon, setelah kepemimpinan Megawati bergeser dari memilih karena latar belakang menjadi memilih karena calonya pintar

Maka terpililah SBY, karena terlalu banyak bantuan serba gratis dari pemerintah, bergeser lagi dari gaya memilih yang tadinya berdasarkan orang pintar berubah memilih kepada orang yang punya empati dan terpililah Jokowi mampu menarik simpati masyarakat.

Dan yang paling terpenting, saran Cakka kepada para caleg. Jangan berniat menggunakan suara curang dengan sistem demokrasi saat ini, karena yakin dan percaya siapa menggunakan suara curang tidak akan terpilih, Ikuti saja peraturan pemilu yang berlaku saat ini. (TN/arif)