Sistem Lingkaran Mayoritas Internal DPRD Penentu Arah Pembangunan Daerah

LUWU, TN- Ketua Komisi III sekaligus ketua fraksi partai golkar DPRD Kabupaten Luwu, Muh.Yamin Annas,SH saat dikonfirmasi diruang fraksi, kamis (4/10) mengakui memang ada semacam sistem hubungan emosional yang terbentuk dengan sendirinya saat agenda kegiatan DPRD berjalan.

Terkait dengan pengambilan keputasan untuk kepentingan masyarakat, kami berdasarkan hasil kesepakatan dalam rapat paripurna yang sudah diagendakan, atau hasil voting dengan suara terbanyak. Katanya

Setiap dalam rapat pasti kami berdebat untuk mempertahankan sebuah hasil keputusan, ungkap Yamin. Apakah kita memperjuangkan kepentingan dan hak-hak rakyat ataukah kita hanya memperjuangkan kepentingan kelompok serta individu

“Untuk itu seorang anggota dewan sebagai wakil rakyat harus mempunyai wawasan yang luas, paham tentang organisasi dan pemerintahan, yang paling penting memiliki karakter yang baik dengan niat mengutamakan kepentingan orang banyak, secara otomatis kepentingan kelompok dan pribadinya juga terpenuhi”.

Bukan seseorang setelah terpilih menjadi anggota dewan kemudian dia kena istilah 5D yaitu datang, duduk, diam, dengar dan duit, tapi seorang anggota dewan adalah pejuang dan bertarung dalam debat paripurna untuk mempertahankan hak-hak masyarakatnya. Tegas Yamin

Terkait hasil dari perjuangan itu tergantung suara terbanyak, kenapa rapat paripurna butuh waktu yang sangat lama karena disinilah biasanya semakin elot dan terjadi lobi-lobi antar anggota dewan yang satu ke anggota dewan yang lain dengan berbagai pilihan kepentingan

Sehingga dengan sendirinya tercipta yang namanya kelompok minoritas dan kelompok mayoritas yang kita maksud tadi dindaku, sambungnya. Kalau sudah terbentuk dua kelompok dalam sebuah pertarungan rapat Paripurna, sudah jelas ada perbedaan kepentingan dalam internal dewan.

Dan sudah pasti mayoritas yang akan memenangkan pertarungan kepentingan dalam voting atau memilih keputusan dengan suara terbanyak diakhir rapat paripurna.

Kita sangat beruntung kalau mayoritas yang menang dalam posisi memperjuangkan orang banyak, tapi kalau sebaliknya mayoritas memenangkan hasil keputusan paripurna hanya untuk kepentingan golongan dan pribadinya maka yakin dan percaya daerah ini tidak akan berkembang

Untuk itu dimomentum pilcaleg di 2019 nantinya, harapan Yamin. Saya sangat berharap kepada masyarakat jadilah pemilih yang cerdas dalam melihat karakter dan kemampuan para kandidat, jangan karena hanya uang 100 ribu per orang, daerah yang kita cintai ini lambat berkembang

Karena sosialisai pendidikan politik lebih bermanfaat untuk menentukan sikap suatu daerah yang lebih maju dan berkembang, dari pada mony politik yang dampaknya hanya memperkaya diri sendiri setelah duduk menjadi anggota dewan.

Yakin saja dindaku, katanya. Saya kasih contoh dampak dari Politik uang atau mony politik, setelah seseorang jadi anggota dewan karena membayar, pasti ada istilah sayakan sudah beli suara masyarakat, jadi buat apa saya mau perjuangkan hak-hak masyarakat, lebih baik saya kembalikan modal. Terang Yamin sembari memberikan contoh (TN/al)