Diduga Ada Pemotongan Pada Santunan Korban Kecelakaan Data Administrasi Jasa Raharja Luwu Dipertanyakan ?

DIYANTI APRILIA : “Kami Petugas Administrasi Hanya Jalankan Sesuai Aturan, Barangkali ini Hanya Diskomunikasi Dengan Pihak Keluarga Korban”.

LUWU, TN- Resiko kecelakaan khusus lalulintas darat bisa terjadi di mana saja, jalan raya maupun di jalan gang atau lorong-lorong rumah masyarakat. Yang paling sedih kalau harus ada korban, entah mengalami luka ringan, luka berat, cacat atau meninggal dunia.

Data resmi dari Satuan Lalulintas Polres Luwu menyebutkan resiko kecelakaan di jalanan cenderung tinggi namun di lapangan banyak kecelakaan yang tidak dilaporkan terutama kecelakaan yang terjadi di lorong atau gang, karena masih banyak masyarakat tidak mau berurusan dengan pihak kepolisian, sehingga lakalantas atau kecelakaan lalulintas jalan raya yang tercatat di kepolisian polres luwu hanya sebagian kecil.

Suhermanto,SH Kepala Satuan (Kasat) Lalu Lintas Polres Luwu mengatakan pada Teropong News di tahun 2017 ini sementara didata apabila ada laporan dari masyarakat, “kalau dalam tahun kemarin 2016 jumlah kecelakaan lalu lintas (lakalantas) yang terdaftar hanya 326 kasus”.

Dengan korban meninggal dunia sebanyak 46 orang, luka berat atau cacat permanen sebanyak 15 orang sedangkan luka ringan sebanyak 265 orang dengan kerugian material sebesar Rp.634.920.000. Katanya

Suhermanto sebagai Kasat Lalulintas Polres Luwu sangat berharap kepada masyarakat dan semua pihak, segera lapor ke petugas kepolisian terdekat apabila ada kecelakaan lalulintas supaya di data dan terdaftar di jasa raharja.

Dilain tempat, Papi (46 thn) nama panggilan, salah satu masyarakat dusun kambuno desa belopa, protes kinerja petugas jasa raharja kabupaten luwu di belopa, terkait pengurusan administrasi yang berbelit-belit dan proses pembayaran santunan kecelakaan tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kata Papi

Karena ada dua keponakan saya, sambung Papi. Haslina (17 thn) mengalami luka cacat seumur hidup pada lutut kanannya, kemudian Askar (19 thn) Mengalami juga luka cacat seumur hidup pada jari kelingking kanan dan luka ringan lecet pada kedua kakinya.

Akibat Kecelakaan antara mobil pertamina dengan sepeda motor yang mereka kendarai, itu terjadi di jalan poros pabburinti kecamatan belopa utara pada malam pergantian tahun baru (2017) kemarin. Katanya

“Saat kejadian, tidak lama mereka langsung di data oleh Polisi Lalu Lintas (Polantas) Polres Luwu dan berkas untuk pengurusan santunan kecelakaan juga sudah lama masuk di petugas jasa raharja belopa”.

Namun jumlah total santunan untuk kedua korban dari petugas jasa raharja belopa hanya Rp.2.200.000,- melalui rekening pihak keluarga korban, dimana Haslina diberikan santunan sebesar Rp.1.400.000,- sedangkan Askar diberikan hanya Rp.800.000,- padahal mereka masuk kategori cacat seumur hidup. Kata Papi

Menurut Papi, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan RI No.36 dan 37/PMK.010/2008 tertanggal 26 Februari 2008, setiap korban dari kecelakaan di darat dan di laut berhak mendapatkan santuan sebagai berikut.

(1).Biaya pengobatan di rumah sakit maksimal Rp.10 juta untuk korban luka ringan. (2).Biaya santunan untuk korban yang mengalami cacat tetap maksimal Rp.25 juta sesuai besaran santunan dibedakan untuk setiap anggota tubuh yang cacat. (3).Santunan untuk korban meninggal dunia di darat atau di laut senilai Rp.25 juta dan (4).Santunan biaya penguburan bagi korban kecelakaan yang tidak memiliki ahli waris sebesar Rp.2 juta.

Dalam aturan jelas, tegas Papi. Paling tidak kedua ponakan saya atau kedua korban kecelakaan tersebut diberikan santunan dari jasa raharja masing-masing minimal Rp.10 juta rupiah karena cacat seumur hidup sesuai aturan.

Karena memang kedua korban ini tergolong orang tuanya kurang mampu, pada saat dirawat di Rumah Sakit Batara Guru Belopa, baru dua minggu pihak keluarga minta korban dikasih pulang walaupun belum sembuh total, karena biaya pengobatan dan biaya tak terduga selama di Rumah Sakit sudah habis Rp.5 juta lebih. Katanya

Diyanti Aprilia Pelaksanaan administrasi Jasa Raharja Samsat Luwu saat dikonfirmasi mengatakan kedua korban tersebut masuk pada kategori luka ringan, bukan luka cacat seumur hidup.

Karena kami jasa raharja memiliki dan bekerjasama dengan beberapa dokter ahli bedah profesional termasuk dokter ahli tulang, jadi dokter ahli lah yang menentukan si korban masuk kategori luka ringan atau luka berat (cacat). Kata Diyanti

Terkait informasi adanya pemotongan biaya santunan untuk korban kecelakaan yang terdaftar dari petugas jasa raharja belopa itu tidak benar adanya, Karena data kecelakaan yang masuk di kepolisian bersifat online, begitu juga di jasa raharja karena data kecelakaan bersumber dari kepolisian. Terang Diya

Setelah korban kecelakaan terdaftar di jasa raharja, sambung Diyanti. Ada petugas kami yang khusus mengecek kebenarannya langsung ke masyarakat atau pihak korban sesuai tidak dengan data yang ada di daftar.

Jadi kami tidak punya cela untuk memotong uang santunan korban kecelakaan, kami Petugas administrasi hanya jalankan sesuai aturan, barangkali ini hanya diskomunikasi dengan pihak keluarga korban”. Karena masih banyak masyarakat atau pihak korban belum mengetahui Kelengkapan dan bagaimana cara untuk mencairkan dana santunan dimaksud, dan itu butuh waktu. Kuncinya (TN-AL)