widget

Sejarah TARLING DAN PERKEMBANGANNYA KINI

Friday, June 10, 2011





Wawancara:

Emma Soekarba dari Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Kampus UI Depok 16424

Tentang Pertanyaan Sekitar Tarling Indramayu,

Berikut Jawaban Budayawan Pantura ;Nurochman Sudibyo YS alias Ki Tapa Kelana sbb:



1. Kapan tarling Indramayu lahir?

Jawaban Ki Tapa:

Penggunaan Gitar dan Suling dimulai sejak jaman masyarakat Eropa membawa Alat musik Gitar melalui jalan perdagangan di Pelabuhan Cimanuk. Belanda berkuasa di Muara Cimanuk dengan membangun Stasiun kereta terakhir di Paoman, Gudang Beras Bramasta di Bawah Randu Gede Sebelah Timur Sungai Cimanuk dan Sebelah baratnya pusat pemerintahan Belanda di abad 16. Saat itu Belanda memperkenalkan irama stambul setelah sebelumnya membawa tanjidor (jidur) selama ratusan tahun. Dikisahkan dimasa masyarakat Belanda mendekati akhir kekuasaannya, ada seorang bangsa Belanda gitarnya rusak terjatuh. Lalu dibetulkan oleh kalangan masyarakat pribumi ahli kayu di desa Kepandean yang merupakan nenek buyut Pa Sugra, warga Desa Kepandean, yang hingga akhir hayatnya beberapa tahun lalu (2003) dikukuhkan sebagai penemu Tarling. Karena ia adalah keturunan terakhir ahli kayu dan juga pembuat gitar yang meniru gitar jaman Belanda.



Pada saat kakek buyut Pa Sugra membetulkan gitar yang pecah itu, ia iseng memetik dawai gitar. Ternyata saat dipetik suaranya ada yang mirip dengan suara gamelan. Adapun masyarakat pada zaman itu rata-rata faseh dengan irama gamelan sebagai alat hiburan yang digunakan dalam bermain musik dengan laras kiser, bendrong, bayeman, kasmaran, macan ucul dll. Adapun lagu-lagunya merupakan bentuk lagu-lagu pengungkapan hati dan perasaan masyarakat disaat itu.



Atas jasa sesepuh Pak Sugra itulah kemudian alat tradisional gamelan,gendang dan suling yang biasanya dipikul secara berkeliling dari-desa ke desa disaat ngamen, diubah atau dipindahkan pada gitar (secara migrasi) dengan menggunakan Gitar dan suling saja. Karena pada jaman mudanya Pak Sugra dikenal sebagai pelatih tembang dan pandai bermain gitar dengan laras gemelan , maka ia disebut tokoh yang pertama memindahkan irama gamelan ke Gitar dan Suling. Namun demikian namanya saat itu bukan tarling namun dikenal dengan sebutan kesenian Teng-dung. Dalam pentas kesenian ini yang digelar dari rumah ke rumah acara keluarga dan pertemanan kemudian ditambahi alat gendang, kecrek dan kemlong sebagai pengiring. Namanya juga belum diebut Tarling. Padahal saat itu Jayana (tokoh dalang Tarling asal Semaya Krangkeng) dan Dadang Darniah (sinden Tarling asal Bogor Sukra Indramayu) di saat mudanya sering berkumpul di rumah Pak Sugra belajr dan berlatih tembang dan musik tengdung sekitar tahun 1940 an.



Seiring kemajuan jaman dan tuntutan kebutuhan hiburan masyarakat, jika gamelan digunakan mendukung seseorang bercerita di dunia pewayangan disebut gamelan wayang. Jenisnya ada dua gamelan yaitu Prawa dan Pelog. Adapun pada jenis musik tengdung berlaras tembang kiser ini menjadi monoton saat disajikan semata berupa tembang yang menyayat dan yang agak gancang (cepat) disebut kiser gancang seperti Lagu Sumpah Suci, Wulan Purnama, Gadis Indramayu dll.



Maka untuk memberikan sebuah sajian yang bisa ditonton semalam suntuk, para seniman tengdung saat itu, memasukkan unsur drama humor dan drama keluarga. Tentu saja diringi tembang sinden dan lagu-lagu kiser gancang sebagai daya tarik pada penggemarnya. Namun demikian Ketika dituntut apa nama kesenian ini di Jaman pasca kemerdekaan hanya Jayana lah, salah satu

tokoh muda seniman tradisi pada waktu itu menyebut kesenian ini “Melodi Kota Ayu” untuk menyebut senbuah musik yang didominasi melodi gitar dari kota Indramayu. Di masa kurang lebih lima belas tahunan kesenian ini melanglang jagat dari desa ke desa dari kota-ke kota dengan sebutan yang sangat tenar “Melodi Kota Ayu”.



Kepiawaian Jayana dalam mementaskan “Melodi Kota Ayu” semakin banyak diminta oleh kalangan bangsawan dan ningrat kraton Cirebon. Tensi pementasannya pun kemudian lebih banyak di Cirebon ketimbang di Indramayu. Sampai kemudian ia menikah dengan keluarga kraton Cirebon. Saat itulah Jayana diminta mengganti nama untuk pentas keseniannya menjadi “Melodi Kota Udang”. Sementara itu muncul tokoh muda di Cirebon yang mulai mengikuti langkah-langkah berkesenian ala Jayana, yaitu Sunarto Martaatmaja. Yang di pertengahan tahun 60 hingga 70 an digemari oleh masyarakat Cirebon dan Indramayu. Saat itu dijaman kejayaan Sunarto ia menyebut dan mempropagandakan kesenian yang telah dimunculkan Jayana itu dengan Nama “Tarling”. Sebutan dari Gitar dan Suling sebagai alat musik yang mendominasi kesenian tersebut. Sunarto Marta Atmaja, berhasil mengangkat nama kesenian Tarling mankala ia pentas bareng dengan pesinden terkenal asal Indramayu Mimi Dadang Darniah di tahun 1971 melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Perwakilan Cirebon, sebagai satu-satunya Corong komunikasi dan alat hiburan masarakat di Wilayah 3 Cirebon yang meliputi; Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Majalengka, Kuningan dan Indramayu. Sunarto dan Dadang Darniah berhasil memukau pendengan dan publik tarling saat itu dengan mengisahkan lakon “Gandrung Kapilayu” atau yang kemudian dikenal dengan julukan “Kang Ato Ayame ilang” sebagai bagian dari dialog percintaan mereka di acara Live RRI tersebut.



Pada perkembangan berikutnya setelah ramainya sebuatan kesenian Tarling oleh Sunarto dan Peseinden Dadang Darniah, di Indramayu bermunculan group-group baru setelah keberhasilan Jayana berkesenian di Kota Cirebon. Pesinden Dadang Darniah membentuk Tarling Endang Darma, Pesinden Hj. Dariah membuat kesenian dengan nama Tarling “Cahaya Muda”, dan Di Cirebon Muncul Abdul Adjib membentuk Tarling “Putra Sangkala” sedang Sunarto Marta Atmaja berjaya dengan group Tarling-nya “Nada Budaya”



2. Apakah ada perbedaan antara tarling Indramayu dan tarling Cirebon? Mana yang lebih dahulu muncul?

Jawaban:

Tak ada perbedaan antara tarling Indramayu dan Cirebon. Mereka para tokoh tarling di Cirebon mengakui keberadaan seniman-seniman Indramayu yang mempelopori kesenian ini. Meskipun Kang Sunarto yang mempropagandakan pertama kali dengan nama Tarling. IA tetap mengakui asal muasal kesenian Tarling dari Indramayu. Adapun H. Abdul Adjib dalam beberapa pertemuannya dengan tokoh seniman dan budayawan Cerbon-Indramayu, ia mengakui mengenal Jayana pada saat berusia SLTP. Namun ia juga mengaku tak pernah belajar kesenian tarling pada siapapun. Ia hanya belajar kesenian gamelan dan lagu-lagu klasik di Kraton Cirebon. Lalu Abdul Adjib melakukan pemindahan pengalaman bermain musik gamelan yang dikuasainya dengan alat musik gitar. Jadi sah saja jika Abdul ajib mengaku ia menemukan sendiri permainan gitarnya yang kemudian ikut juga menamai bentuk kesenian yang dirintisnya itu dengan nama Tarling. Dan hanya Abdul Adjiblah tokoh yang berhasil menciptakan lagu-lagu dan diterima oleh publik nasional sert cerita dalam lakon dramanya yang fenomenal, karena ia sangat tekun memilih lagu dan membuat drama dengan tehnik dan cara sesuai dengan pengalaman pendidikan dan karena latar belakangnya sebagai tokoh seniman tarling dan ia juga berpendidikan tinggi serta masuk kalangan ningrat Cirebon. Maka lahirlah lagu Warung Pojok yang terkenal, lalu Sega Jamblang, Tukang Cukur, Angon Bebek yang ia sebut sebagai lagu tarling laras kiser gancang. Dan Kisah Drama “Baridin Suratminah” atau “Kemat Jaran Guyang” juga lakon “Martabakrun”, dan “Rajeg Kerep Kandang Ayam” menjadi kenangan yang tak bisa dilupakan. Berbeda dengan seniman tradisionil Indramayu yang setiap malam melakonkan kisah berganti ganti dengan koleksi ratusan cerita tanpa naskah, dan ratusan lagu tanpa dokumentasi, yang sulit diingat dan dijadikan legenda kecuali Drama “Saedah Saeni” yang mengisahkan asal usul Kesenian Ronggeng Ketuk dan cikal-bakal Tayuban di Indramayu di masa lalu. Untuk lakon ini boleh dipentaskan oleh grup tarling manapun. Karena lakon ini merupakan legenda yang sudah turun-menurun diceritakan sebagai bagian dari sastra tutur yang berjalan ratusan tahun yang lalu.



3. Apa ciri-ciri tarling Indramayu klasik dan modern?

Jawab:

Tarling Indramayu klasik dan modern itu sebenarnya hanyalah istilah. Karena modernisasi itu merupakan perkembangan jaman. Tarling kalau dilihat dari alatnya sudah modern. Kalau lagu dan irama musiknya memang klasik. Karena sudah ada sejak jaman hindu dan disaat jaman penjajahan Belanda. Hanya saja kini memperoleh Sebutan Tarling Klasik. Kalau mau jujur sebenarnya yang klasik ya Tarling “Teng Dung”. Sebuah tembang dengan irama yang dihasilkan dari gitar dan suling saja dengan laras tembang klasik dermayonan, seperti Kiser Saedah, Kiser Kedongdong, Cirebon pegot, Dermayon pegot, Kasmaran, Bayeman, dan bendrong. Adapun lagu-lagu itu asalnya diambil dari lagu-lagu “pujanggaan” berupa pupuh dandang gula, sinom, kinanti, pangkur , mijil dll yang diperbaharui dengan laras pelan diiringi suara gitar dan suling.



Adapun yang disebut tarling modern saat ini yaitu grup kesenian tarling yang awalnya memiliki 2 group dalam satu rombongan. Ya itu group seniman tradisi pendukung drama dan musik tarling dan juga group musik berirama dangdut. Adapun cara bermainnya dengan petikan gitar gaya tarling yang kadang menyanyikan lagu dangdut asli berbahasa Indonesia, kadang berbahasa Indramayu-Cirebon. Sementara pada saat ini malah muncul modernitas yang lain. Ada group kesenian tarling yang menggunakan alat musik trio organ. Yaitu Gitar, Suling dan Organ serta didukung kemlong dan Kendang Blangpak. Ada juga yang dengan organ saja bisa membawakan lagu klasik tarling, dangdut dan lagu-lagu pop mengikuti selera pasar. Namun di malam harinya ada drama humornya sebagai selingan. Kesenian ini disebut Organ Tarling. Tapi saya kira di masa datang akan kembali lagi ke sutaran waktu, dimana yang modern adalah kesenian tarling yang sekarang sedang saya tekuni yaitu saya mendongeng dan membaca puisi dengan irama gitar dan suling ditambahi suluk dan tembang kiseran.



4. Bagaimana keberadaan tarling Indramayu menghadapi gerusan budaya modern?

Jawaban:

Group Tarling klasik gaya lama yang tidak mau mengikuti perkembangan jaman akan tersisih dengan sendirinya. Adanya pengaruh modernitas yang kian merajalela dan semakin terbukanya pasar bebas dan perdagangan internasional yang menglobal, membawa masyarakat seniman tarling dan para pebisnis musik tak guyah dengan pengaruh itu. Mereka yang fleksibel dan mengikuti perkembangan bisa terus hidup dan berjaya di masanya. Adapun yang bertahan pada pakem dan gaya lama, akan bubar dan hilang nama groupnya karena tak kuat menanggung biaya hidup nayaganya dan bersaing ketat dengan group organ tunggal. Dampak seperti itu karena mereka yang bertahan dengan tarling klasiknya tak akan memperoleh pasar besar.





5. Apakah tarling Indramayu masih tetap mempertahankan pakem atau mengalami pergeseran dengan menyesuaikan diri pada tuntutan zaman, misalnya organ tunggal?

Jawaban:

Tarling kalsik di Indramayu dan di Cirebon sudah Bangkrut dan hilang. Yang ada adalh grup Organ Dangdut Tarling. Atau Tarling dengan iringan Organ yang ada lagu dan dramanya. Tak ada pakem yang dipertahankan. Karena kesenian ini akan terus berkembang sesuai tuntutan pasar, kondisi sosial masyarakatnya dan kemajuan tehnologi yang terus menuntut kreatifitas seniman dan masyarakat penontonnya yang menjadi lahan pasarnya. Dimana masyarakat penanggap akan memilih yang praktis, mudah dan murah tentunya.



Sejak Munculnya anak-anak muda, anak kecil dan orangtua demam ngeband dan lagu-lagu pop sebagaimana mewabah di tingkat nasional, ikut juga mempengaruhi perkembangan group tarling dan organ tunggal. Kejayaan musik-musik group band seperti, Raja, Gigi, The Cangcuter, Shela on7, hingga Ungu dan ST 12, di masyarakat telah menggeser posisi hiburan Organ Dangdut Tarling. Namun demikian Group Organ Tarling pun tak mau kalah. Mereka juga mencari penyanyi yang serba bisa menyajikan lagu-lagu yang disukai anak muda di sore hari dan di malam harinya ditambahi musik dangdut album lama dan drama tarling serta lagu-lagu tarling dangdut sampai menjelang pagi.





6. Mengapa lahir sebutan tarling dangdut?

Jawaban:

Sebutan Tarling dangdut dimulai manakala group-group tarling di Cirebon seperti “Putra Sangkala” (pimpinan H. Abdul Adjib), Nada Budaya (Pimpinan Sunarto Marta Atmaja), dan Jayalelana (pimpinan Maman Suparman) dan di Indramayu terjadi pada Tarling Cahaya Muda (pimpinan H. Dariah), Endang Dharma (pimpinan Hj Dadang Darniah), Dunyawati (pimpinan Pesinden Hj. Dunyawati), dirasa lesu tak memperoleh panggungan tanggapan, maka muncul nama-nama baru seperti Nano romansah dan H. Udin Zaen asal Indramayu yang menggabungkan kejayaan musik dangdut dalam pentas tarling. Sehingga ada dua pementasan dalam satu panggung ya tarling klasik dimunculkan setelah Acara dangdutan gaya Oma Irama di pentas siang dan malam.



Karena jasa Nano Romansyah dan Udin Zaen inilah kemudian grup-grup tarling lainnya mengajak pentas group dangdut anak-anak muda dalam satu panggung. Cara ini untuk melanggengkan kesenian tarling klasik. Berikutnya kemudian muncul tokoh Dangdut tarling seperti; Yoyo Suaryo, Ipang Supendi, Toyib Suaryo, ITI S, Wati S., Nunung Alfi, Aas Rolani, Dewi Kirana, dan Kini era penyanyi Wulan, Tuti, Deddy Yohana, Eddy Zaky, Wadi Oon, Thorikin, Edy Bentar, dan banyak tokoh lainnya.



Namun demikian jika awalnya mereka mengambil lagu-lagu tarling kemudian ditambahi irama dangdut menjadi Dangdut Tarling, berikutnya ada yang bertahan dengan mengambil lagu sintren didangdutin, lagu genjring umbul didangdutin dan menjadi sumber irama langgamnya. Kini karena tuntutan kejar tayang banyak juga lagu Dangdut nasional atau yang mirip dengan itu dinyanyikan dengan bahasa Jawa Indramayu-Cirebon. Ini dilakukan dengan lagu-lagu berbahasa jawa jadi dirasa seperti Tring dangdut padahal bukan Tarling Dangdut tetapi Dangdut berbahasa Jawa Dermayu Cirebon. Inilah kemudian yang saya sebut bedanya Dangdut Tarling dan Tarling Dangdut. Bahkan Tarling Klasik dangdut pun juga berbeda karena lagu dan irama kalsiknya hanya saja tetap dibubuhi irama dangdut.



7. Tema syair-syair lagu tarling Indramayu berbicara tentang apa saja?

Jawaban:

Jika di masa jaman tarling klasik, lagu-lagu tarling mengadopsi dari para pencipta yang tak diketahui namanya (nonim) semisal “Wulan Purnama”, “Sumpah Suci”, dan “Gadis Indramayu”, yang lebih condong pada teks edukasi dan pesan moral terhadap kaum muda serta bangsanya. Sedang di tahun 70 an Jayana dengan Tembang kiser klasiknya berduet dengan Hj. Dadang Darniah, Serta di tahun 80-an Hj. Dariah menciptakan lagu yang bertema pendidikan semisal ; “Cibulan”, “Manuk Dara sepasang”, Di sisi lain H. Abdul Ajib sukses dengan lagu edukasi ; “Warung Pojok” dan “Sega Jamblang” dan “Tukang Cukur”, Adapun Sunarto Marta Atmaja sukses dengan lagu “Melati Segagang”. Perkembangannya kemudian di Tahun 90-an Yoyo Suwaryo yang pada awalnya mencipta lagu-lagu bertema keindahan dan ungkapan syukur seperti “Kirim Donga”, “Bingung”, “Nyawang Gunung”, “Belajar Ngaji” lalu berkembang sesuai Pasar dengan judul-judul bombastis berupa ungkapan cinta seperti “Bapuk”, “Telaga Remis”,”Tetep Demen”, “Wis Langka Harapan”, Dilanjut oleh Ipang Supendi dengan “Tek Tunggu Rangdane, “Pengen Sing Gede, dan kini di tahun 2000 an oleh berbagai nama muncul lagu dengan judul ; “Kucing Garong,” Bendungan Karet”, Prapatan Widasari”, “Pesisir Balongan”, ”Prapatan Celeng”, “Uleg-uleg Dawa”, “Kapegot Tresna”, ”diusir Laki”, “diusir Mertua”, Mujaer Mundur”,”Bareng Janji” dan lain-lainnya yang beratus dan ribuan lagi nama-nama lagunya.



8. Bahasa yang digunakan dalam syair-syair lagu tarling Indramayu, apakah bahasa Jawa Indramayu tingkat tinggi (bebasan) atau bahasa sehari-hari? Atau mengalami percampuran dengan bahasa Indonesia?

Jawaban:

Pada awalnya baik tembang pupuh, pujanggaan dan naskah tembang klasik di Indramayu dan Cirebon diambil dai bahasa kawi, lalu berkembang dicampuri bahasa sandi, kiasan, parikan dan wangsalan atau sastra tutur yang kemudian berubah menjadi bahasa ucap sehari-hari yang ditembangkan dengan unsur pantun ab-ab atau a-a-a-a. Baru pada dialog dalam drama tarling itu sendiri terdapat bahasa “ngoko” untuk dialog antar sesama dan “bebasan” atau “krama madya” untuk anak muda pada orang tuanya. Namun demikian kini di dalam lagu-lagu Tarling Klasik, Tarling Dangdut, Dangdut Berbahasa Jawa, dan lagu-lagu tarling dangdut rock, dangdut tarling koplo dan dangdut tarling klasik yang berkembang sudah banyak yang menggunakan bahasa Jawa Indramayu-Cirebon bercampur bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan bahasa Jawa Indramayu-Cirebon yang oleh pengarangnya kurang dikuasai benar.



Akan tetapi terdapat keistimewaan; jika di tahun 60-70- hingga 80 an pengarang lagu-lagu tarling adalh para tokoh seniman tua, senior yang mumpuni, di era sekarang para pencipta lagu Dangdut tarling (Lagu dangdut berbahasa jawa Indramayu-Cirebon) dan Tarling dangdut (Lagu tarling yang dinyanyikan dengan gaya dangdut nasional) serta Lagu Tarling Klasik Laras Gancang (Lagu yang murni berirama tarling laras gamelan jawa dan berbahasa jawa Indramayu-Cirebonan) boleh dibuat oleh siapapun rakyat Indramayu dan Cirebon. Mereka yang merasakan suka, duka, kesal, sedih dan gembira mencurahkan hatinya lewat tembang. Diantara mereka ada yang latar belakangnya tukang ojeg, lelaki ditinggal Istrinya jadi TKW, lelaki desa yang ditinggal istrinya kerja di Mangga Besar, dan Peleman. Sopir Bis yang istrinya jadi TKI atau nelayan yang istrinya minta cerai dan lain sebagainya memilih membuat lagu sebagai bentuk kekecewaannya. Semua lagu dibuat setiap hari oleh beratus ratus orang dan diwadahi oleh para pencari lagu yang kemudian diproduksi dan dibajak sendiri. Lalu CD dan MP 3 nya disiarkan melalui distribusi perdagangan Kaset emperan Nasional, juga FB, yutub dan jejaring internet lainnya, juga dari HP-ke HP dengan kecanggihan blutut-nya maka lagu dangdut tarling atau lagu Tarling dangdut dan Tarling Klasik bisa merajai dunia musik di masa lesunya group-group dangdut Nasional pasca konflik di TPI dan Munculnya nama-nama baru dari perkembangan Panggung dan CD bajakan di Indonesia yang dipelopori Inul Daratista juga Uut Permatasari.







9. Apakah ada sumber-sumber tertulis tentang tarling Indramayu?

Jawaban:

Sumber tertulis baru dilakukan oleh Nurochman Sudibyo YS, Supali Kasim, Saptaguna, Agung Nuggroho dan Hadi Santoso yang membentuk tim penulisan sejarah Tarling dengan judul Buku “MIGRASI DARI GAMELAN KE GITAR SULING”.



Adapun data-data sederhana lainnya ada di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Indramayu. Namun ya pasti tidak lengkap. Karena Dinas Parbud Indramayu enggan mendata, per karena kesenian ini sudah diklaim kesenian milik Cirebon. Sesoalannya karena kesenian ini sudah semenjak lama diklaim sebdang Dinas Parbud Cirgai kesenian khas Cirebon. Sedangkan di Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon sendiri tak juga memiliki data kesenian tarling karena sejak akhir tahun 90-an kesenian ini tidak lagui berkembang.



Adapun karya-karya saya dalam bentuk “Sejarah Tarling Lengkap” meliputi “Peran Ki Sugra Guru Teng Dung”, “Jayana Titip Gitar Lan Suling”, Abdul Adjib Nemu Tarling”, “Pesinden Wayang dan Tayub Gawe Tarling”, “Lakon Drama Tarling Semalam Sunduk Yang Melegenda”, “Masuknya Tari Srimpi dan Jaipong di Tarling”, “Dangdut Masuk Tarling”, “Peran Nano Romansyah”, “H. Udin Zaen, dan Maman Suparman dalam Tarling Dangdut Gaya Oma Irama”, “Group-Group tarling yang berjaya di tatar Sunda dan Jawa”, “Lagu Karya Yoyo Suwaryo,” “Group Tarling Nama Pelawak”, “Tarling Tinggal Kenangan di Organ Tunggal” yang belum diterbitkan karena belum ada dukungan dananya.





10. Apakah sudah ada penelitian-penetlitian sebelumnya dari kalangan akademisi di dalam/di luar Indonesia tentang tarling Indramayu?

Jawaban:

Penelitian sudah banyak dilakukan tetapi selalu mentok dikarenakan tidak adanya dukungan referensi dari kalangan Dinas kebudayaan dan dari seniman serta budayawan lokalnya. Kecuali bukti-bukti kaset lama dan piringan hitamnya di radio Cindelaras Indramayu dan radio Sindangkasih juga Sturada yang kini berubah jadi FM semua.



Selain itu hampir di setiap tempat baik di Indramayu dan Cirebon muncul sosok yang mengaku penemu tarling. Hal ini sangatlah mungkin terjadi karena jika saja kita masukan seorang anak dalam sebuah rumah yang didalamnya kita dijejali setiap harinya dengan musik tradisi, gamelan , dan tembang-tembang klasik Indramayu-Cirebon maka setelah dewasa saat ia mampu memainkan alat gitar maka dengan sendirinya ia akan menemukan Tarling. Karena tanpa diminta ia akan mampu memindahkan pengalaman berkesenian serta pengetahuannya dalam musik dan tembang tradisional Indramayu-Cirebon tadi, maka ia bisa saja disebut penemu Tarling. Ini bukti bahwa ia akan dengan sendirinya melakukan pemindahan pengalaman batinnya dari suara gamelan ke dawai gitar.



Inilah Jawaban Saya. Mudah-mudahan tidak puas dan akan banyak bertanya lagi. Karena saya juga masih memiliki cerita sejarah tarling dengan versi yang lain.





Indramayu, 10 Juni 2011



NUROCHMAN SUDIBYO YS. Alias Ki Tapa Kelana





Sebagai info, abstrak paper kami sudah diterima panitia icssis. Makalah lengkap akan dikumpulkan pada 5 Juli dan diseminarkan pada Konferensi Internasional ICSSIS 18-19 Juli 2011. www.icssis.wordpress.com



Saya sangat menghargai upaya Ki Tapa Kelana untuk membantu kami dalam kegiatan ini.





Salam hangat,

esraa92@yahoo.com


Dan ini No HP Istri Saya Diah setyowati. Phond Mobile: 085642545777. Rekening : a/n Diah Setyowati, BANK MANDIRI KCP TEGAL SUDIRMAN 13901. No. 139-00-1063776-1



Semoga Jawabannya memuaskan dan bisa diterima serta amal perbuatan dan rasa rumasanya iklas dan saling mengerti. Amien...


Dari Nurochman Sudibyo YS. Alias Ki Tapa Kelana.





Si Penanya;

Emma Soekarba

Departemen Filsafat

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

Universitas Indonesia

Kampus UI Depok 16424

HP. 0815 900 85 29

email: esraa92@yahoo.com

0 komentar:

 
teropong-news.com © 2013 | Designed by Oktoral